UNIVERSITAS PGRI ARGOPURO JEMBER

Cari di UNIPAR

Temukan berita, halaman, informasi, prestasi, dan foto dokumentasi.

Ketik minimal 2 karakter. Tekan Enter untuk melihat semua hasil atau gunakan panah untuk memilih saran.

Universitas

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG

09 September 2026 · HUMAS UNIPAR

Dari proses seleksi nasional hingga pembelajaran langsung di Jepang, Universitas PGRI Argopuro Jember siapkan transformasi layanan disabilitas melalui “Gerakan Kampus Inklusif UNIPAR” JEMBER – Universitas PGRI Argopuro Jember (UNIPAR) berhasil terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti KRISAN Fellowship – …

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG

Dari proses seleksi nasional hingga pembelajaran langsung di Jepang, Universitas PGRI Argopuro Jember siapkan transformasi layanan disabilitas melalui “Gerakan Kampus Inklusif UNIPAR”

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG

JEMBER – Universitas PGRI Argopuro Jember (UNIPAR) berhasil terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti KRISAN Fellowship – Fellowship to Japan 2026, sebuah program penguatan kapasitas kelembagaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang diselenggarakan Pijar Foundation dengan dukungan The Nippon Foundation dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG

Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari rangkaian proses yang dimulai dari seleksi awal, Online Executive Workshop, penyusunan dan seleksi Proposal Action Plan, Disability Equality Training (DET), hingga Fellowship ke Jepang. Dalam Letter of Acceptance, UNIPAR dinyatakan terpilih berdasarkan evaluasi terhadap partisipasi peserta selama workshop, kesiapan kelembagaan perguruan tinggi, serta kualitas dan kelayakan proposal rencana aksi yang diajukan.

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG

UNIPAR dalam program tersebut diwakili oleh Asrorul Mais, S.T., S.Pd., M.Pd. dan Lailil Aflahkul Yaum, M.Pd. Fellowship ke Jepang berlangsung pada 22–30 Agustus 2026 di Tokyo dan Kyoto. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mempelajari sistem layanan disabilitas dan praktik pendidikan tinggi inklusif yang telah berkembang di Jepang.

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG

Belajar dari Sistem Inklusif Jepang

Rangkaian pembelajaran di Jepang memberikan pengalaman yang tidak hanya bersifat observasional, tetapi secara langsung dikaitkan dengan kebutuhan pengembangan ULD di perguruan tinggi Indonesia.

Pada kunjungan pertama ke The Nippon Foundation dan The Open University of Japan (OUJ), peserta memperoleh perspektif bahwa layanan disabilitas tidak cukup hanya berupa bantuan individual. Layanan harus menjadi bagian dari sistem utama universitas, didukung kebijakan, SDM, teknologi, koordinasi, serta aksesibilitas yang dirancang sejak awal. Salah satu prinsip penting yang diperoleh adalah memulai layanan dari hambatan yang dialami mahasiswa, bukan semata-mata dari diagnosis disabilitas.

Pembelajaran berlanjut di National Tsukuba University of Technology (NTUT) pada layanan bagi mahasiswa Tuli/Hard of Hearing serta Blind/Low Vision. Peserta mengamati pemanfaatan berbagai teknologi asistif, seperti notetaking, captioning, speech recognition, interpreting, assistive listening device, screen reader, NVDA, magnifier, hingga perangkat Braille. Teknologi tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi dipadukan dengan asesmen kebutuhan, pendampingan, pelatihan dan pengembangan kemandirian mahasiswa.

Salah satu praktik yang menarik adalah sistem Sapota, yaitu dukungan teman sebaya yang dikelola secara terstruktur melalui pelatihan, penugasan, pendampingan senior-junior, serta mekanisme matching jadwal. Praktik tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi pengembangan Buddy Akademik UNIPAR.

ULD sebagai One-Stop Disability Support

Pembelajaran berikutnya berlangsung di Kyoto University melalui Disability Resources Center (DRC). Di sini peserta melihat bagaimana layanan disabilitas dikembangkan sebagai pusat layanan terpadu, yang mengintegrasikan reasonable accommodation, konseling, teknologi asistif, pendampingan, hingga dukungan karier.

Model tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak seharusnya mencari dan berpindah-pindah unit ketika membutuhkan dukungan. DRC menjadi pusat koordinasi yang menghubungkan berbagai layanan sekaligus melibatkan tenaga profesional dan mahasiswa pendamping. Kyoto University juga mengembangkan jejaring antarperguruan tinggi melalui Higher Education Accessibility Platform (HEAP).

Bagi UNIPAR, pembelajaran tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan PSLD/ULD sebagai One Stop Disability Service, dengan sistem asesmen kebutuhan, permohonan akomodasi, layanan teknologi asistif, pendampingan, konseling, rujukan dan dukungan karier yang terintegrasi.

Dari Kampus Menuju Dunia Kerja

Pembelajaran tidak berhenti pada layanan akademik. Di Omron Kyoto Taiyo dan Kyoto Job Park, peserta mempelajari bagaimana dukungan bagi penyandang disabilitas diteruskan hingga dunia kerja.

Omron Kyoto Taiyo memperkenalkan filosofi “No Charity, but a Chance”, yang menempatkan pekerja disabilitas sebagai sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan kontribusi bagi perusahaan. Akomodasi diberikan dengan melakukan penyesuaian lingkungan, mesin, peralatan, dan tempat kerja, sementara standar hasil kerja tetap dipertahankan.

Sementara itu, Kyoto Job Park menunjukkan pentingnya konseling, asesmen potensi, pelatihan kesiapan kerja, job matching, magang, dan pendampingan dalam proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja. Pembelajaran tersebut memperluas perspektif UNIPAR bahwa layanan mahasiswa disabilitas tidak boleh berhenti pada keberhasilan akademik dan kelulusan, tetapi juga harus mempersiapkan kemandirian, partisipasi sosial, dan kesiapan memasuki dunia kerja.

Action Plan: “Gerakan Kampus Inklusif UNIPAR”

Seluruh pembelajaran selama fellowship kemudian diterjemahkan ke dalam rencana aksi tiga bulan bertajuk:

“GERAKAN KAMPUS INKLUSIF UNIPAR: Transformasi Layanan Disabilitas melalui Penguatan Sistem, Kapasitas, dan Budaya Inklusif.”

Action Plan ini diarahkan untuk mengubah pola layanan yang masih bergantung pada inisiatif individu menjadi sistem kelembagaan yang terintegrasi, terdokumentasi, terukur, dan berkelanjutan. Kondisi UNIPAR saat ini memiliki 189 mahasiswa disabilitas, sementara penguatan masih diperlukan pada aspek asesmen kebutuhan, SOP layanan, koordinasi antarunit, RPS akomodatif, Buddy Program, serta perluasan budaya inklusif.

Enam program utama yang akan dilaksanakan pada September–November 2026 meliputi:

1. Panduan Manajemen Layanan Disabilitas dan SOP

Menghasilkan panduan manajemen, paket SOP, instrumen asesmen kebutuhan, alur layanan terpadu, dan database mahasiswa disabilitas.

2. Disability Mainstreaming bagi Dosen dan Tenaga Kependidikan

Menargetkan 60 dosen dan 50 tenaga kependidikan, dengan melibatkan perguruan tinggi mitra untuk memperkuat pembelajaran bersama dan jejaring.

3. Inclusive Learning: RPS Akomodatif dan UDL

Dosen membawa RPS yang digunakan, mengidentifikasi hambatan pembelajaran, merancang akomodasi, kemudian melakukan revisi. Targetnya minimal satu RPS akomodatif pada setiap program studi.

4. Student Empowerment

Penguatan self-esteem, self-advocacy, kemandirian, dan pengembangan diri bagi 189 mahasiswa disabilitas, yang diarahkan menghasilkan Personal Development Plan.

5. Inclusive Student Culture

Membangun literasi disabilitas bagi mahasiswa non-disabilitas, BEM, HMPS dan UKM. Setiap organisasi mahasiswa diarahkan melakukan Accessibility Check dan menyusun Inclusive Activity Plan.

6. Buddy Support System

Membangun sistem pendampingan melalui tahapan recruit – train – match – support – monitor, dengan target 30 Buddy Akademik dan 20 Buddy Psikososial, dilengkapi panduan, SOP pendamping, sistem matching, logbook dan monitoring-evaluasi.

Tiga Bulan untuk Memulai Perubahan Jangka Panjang

Pelaksanaan Action Plan dirancang dalam tiga tahap. Bulan pertama (September) berfokus pada Build the System melalui pemetaan layanan, asesmen kebutuhan, penyusunan panduan dan SOP, pelatihan dosen/tendik, serta penguatan jejaring perguruan tinggi.

Bulan kedua (Oktober) diarahkan pada Build the Capacity, melalui workshop RPS akomodatif dan UDL, penguatan self-esteem dan self-advocacy mahasiswa, mainstreaming mahasiswa, pelatihan UKM, serta penyusunan Panduan Buddy.

Selanjutnya, bulan ketiga (November) memasuki tahap Pilot & Sustain, berupa pelatihan Buddy Akademik dan Psikososial, matching, pilot pendampingan, implementasi RPS, monitoring dan evaluasi, finalisasi SOP, serta penyusunan rencana keberlanjutan.

Secara kuantitatif, dalam tiga bulan UNIPAR menargetkan tersusunnya 1 Panduan Manajemen Layanan Disabilitas, 1 paket SOP, 1 sistem asesmen dan database, 60 dosen terlatih, 50 tenaga kependidikan terlatih, 189 mahasiswa disabilitas terjangkau, 30 Buddy Akademik, 20 Buddy Psikososial, minimal satu RPS akomodatif per program studi, keterlibatan sedikitnya lima perguruan tinggi, serta 50 pengurus BEM/HMPS/UKM.

Dari Jepang untuk UNIPAR, dari UNIPAR untuk Indonesia

Perjalanan KRISAN Fellowship bagi UNIPAR bukan sekadar perjalanan akademik ke Jepang. Rangkaian tersebut menjadi proses pembelajaran untuk melihat secara langsung bagaimana sistem, teknologi, sumber daya manusia, budaya kampus, hingga dunia kerja dapat dihubungkan dalam satu ekosistem pendidikan inklusif.

Melalui Gerakan Kampus Inklusif UNIPAR, pengalaman tersebut akan diterjemahkan ke dalam konteks lokal dan kebutuhan nyata mahasiswa di UNIPAR.

Target akhirnya bukan sekadar bertambahnya kegiatan layanan disabilitas, tetapi terbangunnya PSLD/ULD sebagai pusat koordinasi layanan inklusif, dosen dan tenaga kependidikan yang semakin siap memberikan layanan, mahasiswa disabilitas yang semakin percaya diri dan mandiri, organisasi mahasiswa yang semakin inklusif, serta sistem Buddy yang terstruktur dan berkelanjutan.

Dengan demikian, keberhasilan UNIPAR dalam KRISAN Fellowship 2026 diharapkan menjadi awal dari perubahan kelembagaan, bukan akhir dari sebuah program. Sebagaimana semangat Action Plan yang disusun, pembelajaran dari Jepang akan diadaptasi menjadi praktik yang sesuai dengan kebutuhan UNIPAR, diuji melalui implementasi, dievaluasi, dan selanjutnya dikembangkan menjadi sistem layanan pendidikan tinggi inklusif yang berkelanjutan.

“Dari Jepang kita belajar praktik baik. Di UNIPAR kita bangun sistemnya. Dari UNIPAR kita dorong gerakan kampus inklusif yang lebih luas.”

Dokumentasi kegiatan

UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG — dokumentasi 1Lihat foto 1 ↗UNIPAR Terpilih dalam Lima Perguruan Tinggi Terbaik KRISAN Fellowship 2026, Siap Wujudkan Kampus Inklusif Berbasis Praktik JEPANG — dokumentasi 2Lihat foto 2 ↗
← Semua berita

Galeri berita

Geser gambar atau gunakan tombol panah. Tekan Esc untuk menutup.